Selasa, Mei 14, 2024
BerandaEKONOMI PEDESAANRumah Kompos, Harapan Baru Petani di Hulu Sepauk Sintang, Seperti Apa?

Rumah Kompos, Harapan Baru Petani di Hulu Sepauk Sintang, Seperti Apa?

  • Maraknya pupuk palsu yang beredar di pasaran membuat petani harus lebih berhati-hati dalam memilah-milah produk yang akan dibeli.
  • Instruksi Presiden No.6/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Sawit Berkelanjutan 2019-2024 (Inpres 6/2019). Terakhir, Peraturan Presiden No.44/2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Sawit Berkelanjutan (Perpres 44/2020). Terdapat poin keberlanjutan dengan mengedepankan aspek lingkungan dalam hal tata kelola berkebun kelapa sawit yang baik dan benar.
  • Pembangunan Rumah Kompos dimulai dengan penjajakan kerja sama pemanfatan limbah pabrik kelapa sawit di PT. Agro Andalan. Koperasi Produsen Raja Swa yang juga merupakan binaan dari PT. Kencana Alam Permai menjual buah TBS ke PT. AAN yang berada di Kayu Lapis, Sekadau.
  • Satu kilo kompos produksi Koperasi Raja Swa dihargai Rp. 3.500,-/kg, harga yang terbilang murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia pada umumnya. Kompos yang telah diproduksi dikemas mengunakan kemasan 10 kg dan setiap pembelian dalam jumlah yang banyak akan mendapat potongan harga.

 

Melonjaknya harga pupuk kimia kini kian drastis, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sangat tak terelakan mengingat kebutuhan tanaman yang memerlukan unsur hara pada pupuk. Kurangnya pemahaman petani mengenai bahayanya penggunaan pupuk kimia apabila digunakan secara terus menerus membutuhkan pendekatan dalam sosialisasi yang harus dilakukan.

Maraknya pupuk palsu yang beredar di pasaran membuat petani harus lebih berhati-hati dalam memilah-milah produk yang akan dibeli, tak hanya itu adanya pupuk non subsidi yang dikeluarkan pemerintah terkadang diselewengkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab, sehingga dinilai tak tepat sasaran.

Pemupukan adalah kunci keberhasilan dari berkebun kelapa sawit, maka dari itu pentingnya pemilihan jenis pupuk yang digunakan berpengaruh terhadap kesuburan tanaman. Petani saat ini harus melek dengan isu-isu lingkungan yang sedang digaungkan oleh pemerintah.

Instruksi Presiden No.6/2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Sawit Berkelanjutan 2019-2024 (Inpres 6/2019). Terakhir, Peraturan Presiden No.44/2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Sawit Berkelanjutan (Perpres 44/2020). Terdapat poin keberlanjutan dengan mengedapankan aspek lingkungan dalam hal tata kelola berkebun kelapa sawit yang baik dan benar.

Sekolah Lapang Petani Sawit Mandiri

Menurut Mudistus Sadi, salah seorang warga yang juga anggota Koperasi Raja Swa mengatakan, masyarakat disini masih asal-asalan dalam budidaya kelapa sawit secara mandiri, seperti membeli bibit palsu, jarak tanam yang terlalu rapat, hingga tidak memupuk tanaman kelapa sawit.

“Kelapa sawit menjadi primadona dalam beberapa tahun terakhir, mengingat harga dan kemudahan dalam menjual TBS. Warga kami kadang latah juga, suka ngikut-ngikut yang sedang tren, orang nanam sawit mereka juga ikut nanam tapi kadang asal-asalan dalam budidayanya. Akhirnya kebunnya tidak maksimal dan dibiarkan begitu saja”. Paparnya.

Solidaridad Indonesia dan pemerintah provinsi serta kabupaten bekerja sama dalam mengatasi perubahan iklim melalui program national initiative for sustainable and climate smart oil palm smallholders (NISCOPS) atau inisiatif pemerintah untuk petani sawit berkelanjutan dan ramah iklim.

Program NISCOPS ini mulai 2019-2023. Ada tujuh kabupaten di Kalbar yang mendapatkan intervensi program yang menekankan prinsip peningkatan kesejahteraan petani mandiri sawit dan aspek keberlanjutan lingkungan.

Tujuannya, perkebunan sawit tanpa deforestasi, dan perlindungan gambut serta mendorong strategi mitigasi untuk peningkatan cadangan karbon berbasis lahan, adaptasi perubahan iklim, dan perbaikan perikehidupan petani.

Solusi persuasif dalam perbaikan budidaya kelapa sawit yang baik dan benar ialah melalui Sekolah Lapang Petani Kelapa Sawit yang dilaksanakan di tingkat tapak. Solidaridad Indonesia melalui kegiatan Sekolah Lapang Petani Sawit di kabupaten Sintang telah menjangkau desa-desa dan kecamatan untuk melaksanakan kegiatan tersebut, saat ini sebanyak 1.639 petani sawit mandiri terdiri dari 382 petani perempuan dan 1.257 petani laki-laki telah dilatih mengenai penerapan good agriculture practices (GAP).

Sekolah Lapang Petani Sawit Mandiri di Hulu Bangun. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Desa Bangun di hulu Sepauk merupakan salah sekian desa penerima manfaat program yang dilaksanakan Solidaridad, melalui peningkatan pendapatan alternatif disepakatilah untuk dibangun Rumah Produksi Kompos.

Melalui Koperasi Produsen Raja Swa, Rumah Kompos dibangun dengan komitmen bersama atas dasar kemaslahatan anggota dan petani sawit mandiri untuk menyongsong budidaya kelapa sawit yang berkelanjutan.

Menyongsong Kelapa Sawit Berkelanjutan.

Tahapan dalam pembangunan Rumah Kompos dimulai dengan penjajakan kerja sama pemanfatan limbah pabrik kelapa sawit di PT. Agro Andalan. Koperasi Produsen Raja Swa yang juga merupakan binaan dari PT. Kencana Alam Permai menjual buah TBS ke PT. AAN yang berada di Kayu Lapis, Sekadau.

Rizaldi, selaku Mill Head PT. AAN menyampaikan, bahwa pihak perusahaan menyambut baik dengan inisiasi kerja sama pemanfatan limbah untuk bahan baku pembuatan kompos, namun dalam setiap prosesnya harus mengedepankan aspek kehati-hatian mengingat barang yang dikerjasamakan ialah limbah pabrik.

“Kami menyambut baik inisiasi kerja sama pemanfatan limbah ini, mengingat kami sendiri kadang kewalahan dalam mengelola limbah pabrik kelapa sawit seperti jankos yang menggunung di pabrik. Syukurlah ada koperasi yang juga binaan kami kini mau mengolah limbah pabrik untuk dijadikan kompos. Namun ada beberapa hal yang harus ditekankan dalam kerja sama ini seperti metode pengambilan limbah, pendistribusian, hingga metode pengolahan. Karena pabrik kami sudah RSPO dan ISPO jadi kami mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam hal seperti ini agar tidak menjadi pergejolakan ketika kami mengizinkan limbah pabrik untuk diambil”. terangnya.

Kunjungan ke Pabrik PT. AAN untuk melihat kolam limbah Pome/Solid. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Dalam kunjungan tersebut para petani meminta izin untuk mengakses limbah pabrik yang akan digunakan sebagai bahan baku kompos, seperti jankos, pome/solid, serat fiber, dan abu boiler. Pihak perusahaan mempersilahkan untuk diambil namun harus menyiapkan surat kesediaan memanfaatkan limbah dengan melapirkan SOP.

Pemberdayaan anggota SKI Koperasi

Sistem Kendali Internal yang telah dibentuk untuk keperluan sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan diberdayakan dengan maksimal, seperti halnya dilibatkan dalam divisi rumah kompos. Dadas selaku ketua SKI menjadi koordinator dalam pembangunan rumah kompos ini, setidaknya ada 9 orang anggota koperasi yang terlibat dalam proses produksi Rumah Kompos ini.

Tepat pada bulan Februari 2023, dilaksanakan pelatihan pembuatan pupuk kompos di desa Bangun. Fasilitator bersama konsultan melaksanakan pelatihan selama 5 hari untuk melatih anggota koperasi memproduksi kompos.

Proses pencacahan jankos untuk menjadi salah satu bahan baku kompos. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Tahap awal dalam produksi kompos, anggota mampu menghasilkan 20 ton yang diproses untuk tahapan fermentasi selama kurang lebih 2 bulan. Dalam kurun waktu tersebut dilakukan pembolak-balikan perminggunya serta dilakukan pengukuran suhu dan pH sebagai basis data awal.

Ketua Koperasi Raja Swa Darius Anu mengatakan di daerah hulu Sintang saat ini minat berkebun kelapa sawit sangat tinggi namun belum diimbangi dengan pengetahuan berkebun yang baik dan benar. Apalagi saat ini banyak desa-desa yang menganggarkan 20% Dana Desa untuk ketahanan pangan dengan membeli benih kecambah kelapa sawit untuk dibagikan ke warga-warga. Ini peluang bagus untuk unit usaha koperasi dalam menyediakan pupuk murah dan ramah lingkungan.

Pemberian ramuan bakteri untuk menambah kandungan lapisan kompos. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

“Rumah kompos ini menjadi angin segar bagi kami petani kelapa sawit di daerah hulu Sintang, akses jalan yang kurang baik menyebabkan harga dan jumlah pupuk pada umumnya susah didapat dan jika adapun dengan harganya cukup tinggi. Kompos yang kami produksi bisa dibilang menjadi solusi untuk petani dalam berkebun kelapa sawit dan tanaman-tanaman lainnya”. ungkapnya.

Produk kompos yang telah dikemas dan siap dijual. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Saat ini kompos yang diproduksi telah diuji di laboratorium dengan hasil kandungan yang cukup memuaskan. Hasil tersebut menjadi rujukan dalam pengaplikasian pupuk kompos ke jenis-jenis tanaman yang berbeda. Kelapa sawit contohnya, setidaknya untuk usia Tm memerlukan dosis 15 kilogram perpokok untuk satu kali frekuensi pemupukan dengan internal satu tahun sekali, dan usia tanam TBM memerlukan 10 kg/pokok untuk satu kali frekuensi pemupukan dengan internal satu tahun sekali,

Untuk jenis tanaman lainnya seperti holtikultura memerlukan 1 kilo setiap kali pengaplikasian dengan interval pemupukan 3 bulan sekali. Hasil yang didapat akan sangat maksimal mengingat ketersediaan kandungan N, P, & K serta mikroba sangat tinggi dan baik untuk tanaman holtikultura.

Satu kilo kompos produksi Koperasi Raja Swa dihargai Rp. 3.500,-/kg, harga yang terbilang murah jika dibandingkan dengan pupuk kimia pada umumnya. Kompos yang telah diproduksi dikemas mengunakan kemasan 10 kg dan setiap pembelian dalam jumlah yang banyak akan mendapat potongan harga.

Hasil uji laboratorium sampel kompos yang diproduksi Koperasi Raja Swa, dengan kandungan yang cukup baik. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Baca juga: Komitmen Keberlanjutan dalam Pembangunan Ekologi Secara Lestari

Dari Raja Swa, untuk Sintang yang berkelanjutan

Tak lengkap rasanya kalau membicarakan bisnis hulu tanpa membicarakan hilirnya, melalui pelatihan manajemen bisnis yang difasilitasi oleh Solidaridad dengan mendatangkan narasumber dari lembaga keuangan seperti Gerakan CU Keling Kumang, para anggota yang berkecimpung di Rumah Kompos mendapat pelatihan manajemen bisnis untuk mengembangkan usaha yang lebih baik lagi.

Anggota koperasi yang terlibat di Rumah Kompos sebanyak 9 orang semuanya merupakan warga lokal yang kesehariannya bertani dan berkebun. Dalam pemaparannya Valentinus, CEO GCU-KK menyampaikan sangat tertarik dengan bisnis kompos yang dikembangkan Koperasi Raja Swa, ini merupakan pionir bagi koperasi dalam mengembangkan unit usahanya.

“Kami punya limbah bonggol jagung dan limbah gula aren yang bisa diambil untuk bahan baku kompos, hal ini bisa dikerja-samakan antara koperasi dan CU. Kedepannya tidak menutup kemungkinan kita bekerja sama dalam hal pemasaran kompos di wilayah Sintang dan sekitarnya mengingat kebutuhan pupuk oleh anggota CU KK sangatlah banyak”. ucapnya.

Pelatihan manajemen bisnis bagi anggota Koperasi Raja Swa. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Selain itu dalam kesempatan lainnya Jarot Winarno, Bupati Sintang menyambangi Rumah Kompos pada saat kegiatan Rapat Anggota Tahunan tahun 2023 di desa Bangun. Dalam kunjungannya beliau mengapresiasi Rumah Kompos, hal ini selaras dengan visi kabupaten lestari.

Hal ini merupakan bagian dari upaya mendukung program Pemkab Sintang dalam hal kelapa sawit berkelanjutan mengingat kabupaten Sintang memiliki keluasan sawit nomor 3 di Kalimantan Barat.

Baca: Mengenal Kampung Kopi di Hulu Tempunak, Sintang.

 

Kunjungan Bupati Sintang di Rumah Kompos pada saat kegiatan RAT Koperasi Raja Swa. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Koperasi Raja Swa memiliki anggota sebanyak 82 orang dengan keluasan kebun mencapai 293.56 Ha, awalnya masyarakat di desa Bangun menolak perkebunan sawit yang menerapkan sistem bagi hasil karena dinilai merugikan masyarakat. Seiring berjalannya waktu melalui pola kemitraan mandiri yang digagas perusahaan barulah adanya kesepakatan dalam kemitraan tersebut.

Kemitraan mandiri merupakan hal yang baru di Sintang, Koperasi Raja Swa merupakan pionir dalam menerapkan sistem ini. Pola yang disepakati antara masyarakat dan perusahaan ialah kepemilikan lahan yang masih dimiliki oleh masyarakat namun dalam hal  pengelolaanya dilaksanakan oleh perusahaan.

Gaung Rumah Kompos tak hanya menggema di Sintang saja, baru-baru ini Aliansi Petani Kelapa Sawit Keling Kumang diundang mengunjungi desa Bangun untuk melaksanakan pelatihan pembuatan kompos. Tak tangung-tanggung sebanyak 32 orang perwakilan kelompok penerima manfaat sertifikasi kelapa sawit berkelanjutan hadir dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan ini menjadi penyemangat anggota dalam menerapkan perkebunan yang ramah lingkungan dengan mengaplikasikan kompos di kebun-kebun mereka. Mersia, peserta dari Kampung Sungai Kunyit ingin menerapkan kompos di sekitar rumahnya yang ia tanamai dengan sayur-sayuran.

“Ini pertama kali saya melihat proses pembuatan kompos dari bahan baku limbah kelapa sawit, biasanya kami pada praktik Sekolah Lapang menggunakan limbah-limbah yang mudah dijumpai di sekitar rumah. Saya sangat tertarik untuk mencobanya di rumah, kebetulan saya juga menanam sayur-sayuran di sekitar rumah”. Katanya.

Pelatihan pembuatan kompos bagi anggota Aliansi Petani Kelapa Sawit-Keling Kumang di Rumah Kompos desa Bangun. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

Saat ini pembangunan fisik bangunan Rumah Kompos sudah mencapai 85% di akhir tahun 2023, terdapat 14 blok yang setiap bloknya mampu menampung 2 ton kompos hasil olahan fermentasi. Untuk membangun Rumah Kompos ini dilakukan secara bertahap diselesaikan, meskipun begitu aktifitas produksi tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Bangunan Rumah Kompos ini jauh dari pemukiman warga dikarenakan adanya SOP yang mengedepankan kenyamanan warga sekitar yang perlu diutaman. Mengingat setiap kali produksi kompos dilakukan, suara bising dari alat pencacah serta bau jankos yang kadang terbawa angin sehingga hal-hal seperti ini perlu diatur dalam SOP produksi kompos.

Tak hanya itu desain dan sistem pengaliran limbah juga dibuat sedemikian rupa agar wilayah sekitar tidak terkena dampak dari proses produksi. Hal ini jauh-jauh sebelum hari pembangunan sudah disepakati dan disetujui oleh konsultan dan masyarakat.

Progres pembangunan fisik Rumah Kompos. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara.

 

 

Artikel yang diterbitkan oleh Nurmanto

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments