Selasa, Mei 14, 2024
BerandaKOMODITAS BERKELANJUTANMenanti Balsa Menjadi Komoditi Primadona di Kalimantan Barat.

Menanti Balsa Menjadi Komoditi Primadona di Kalimantan Barat.

  • Awal mula tanaman balsa masuk di Kalimantan Barat pada tahun 1993 oleh PT. Puspa Wana yang terletak di Desa Balai Agas, Kabupaten Melawi.
  • Sistem kemitraan mandiri banyak diterapkan untuk budidaya pohon ini, contohnya di petani-petani di Kecamatan Sungai Tebelian, Kelam, hingga Dedai, yang bekerja sama dengan perusahaan.
  • Jepang salah satu negara konsumen menggunakan kayu balsa sebagai bahan baku konstruksi rumah anti gempa, sedangkan China selaku negara manufaktur yang besar memproduksi baju anti peluru hingga kincir angin.
  • Pohon balsa sudah bisa dipanen pada usia 3 tahun dengan diameter 35 – 40 cm, pihak perusahaan menekankan agar petani memanen tepat waktu dalam rentang waktu yang sudah ditentukan.

 

Badri Syukur petani di Desa Mantir, menjelaskan awal mula petani menanam tanaman balsa berdasarkan rekomendasi dari Dinas yang menjelaskan karakteristik tanah yang cocok untuk ditanami tanaman tersebut. Melalui PT. Balsa pada tahun tahun 2021 dilakukan sosialisasi dan pemberi bantuan benih balsa yang dibagikan ke 10 orang petani di Desa Mantir.

“Kami di desa mendapat informasi dari pemerintah terkait pengembangan budidaya tanaman balsa, kami cukup tertarik untuk menanamnya”. Kata Badri Syukur saat ditemui Tim pertengahan Agustus, 2023 lalu.

Beberapa bulan terakhir menjadi perbincangan hangat seputar pohon balsa (Ochroma Pyramidale), tanaman yang berasal dari negara Ekuador, Papua Nugini, dan Indonesia ini menjadi topik yang sering dibahas di warung-warung kopi, kegiatan-kegiatan pemerintah, hingga di tingkat petani di desa. Ini terjadi mengingat kebutuhan balsa yang cukup baik di pasar global dan harus adanya alternatif lain komoditas yang dikembangkan selain sawit dan karet.

Awal mula tanaman balsa masuk di Kalimantan Barat pada tahun 1993 oleh PT. Puspa Wana yang terletak di Desa Balai Agas, Melawi. Saat ini balsa sudah dibudidayakan hampir di seluruh penjuru Kalimantan Barat meliputi, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Landak, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, dan Ketapang.

Di Kabupaten Sintang sendiri sudah ada beberapa desa yang menanam tanaman ini  melalui pola kemitraan mandiri bersama PT. Balsa Indonesia, meliputi Desa Mantir, Nobal, Merpak, Balai Agung, Gurung Kempadik, Baya Betung, Baya Mulia, Bonet Engkabang, Bonet Lama, Panjernang PD, Melayang Sari, Merarai 1 & 2, dan Sungai Pukat.

Pohon balsa yang berumur satu tahun setengah, menjulang tinggi di atap hutan. Foto:Nurmanto/Rimba Aksara

Sistem kemitraan mandiri banyak diterapkan untuk budidaya pohon ini, contohnya di petani-petani di Kecamatan Sungai Tebelian, Kelam, hingga Dedai, yang bekerja sama dengan perusahaan.

Pola kerja sama yang ditawarkan berupa bantuan bibit yang diberikan oleh perusahaan dan pendampingan terkait kultur teknis budidaya. Sistem bagi hasil 50:50 yang di mana nantinya pihak perusahaan akan menyediakan jasa penebang pohon dan angkut.

Petani akan dibebankan untuk urusan penyediaan lahan dan pupuk, dalam rentang umur 0 – 8 bulan petani harus selektif dalam merawat pembibitan dikarenakan dalam tahap ini balsa yang sedang dalam polibek rawan terkena hama. Perlu perhatian khusus dalam tahap pembibitan agar tumbuh kembang dapat maksimal.

Tanaman balsa terbagi menjadi dua jenis yaitu, balsa putih dan merah, namun yang diperjual belikan ialah jenis balsa putih karena jenis ini lebih ringan dari yang merah. PT. Balsa Indonesia selaku exportir kayu balsa menyuplai kayu ke negara-negara Asia Timur seperti China, Korea, India, dan Jepang.

Petani balsa di Kecamatan Sungai Tebelian, Sintang, sedang berdiri di kebun yang ditanami balsa secara tumpang sari. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Jepang salah satu negara konsumen menggunakan kayu balsa sebagai bahan baku konstruksi rumah anti gempa, sedangkan China selaku negara manufaktur yang besar memproduksi baju anti peluru hingga kincir angin.

Negara-negara di Eropa yang mengusung konsep ramah lingkungan beralih dari penggunaan bahan bakar batu bara dengan pemanfaatan kincir angin yang bahan bakunya terbuat dari kayu balsa.

Hal ini menyebabkan permintaan kayu balsa sangat banyak untuk negara-nega Eropa. Selain itu, kayu balsa mudah untuk dipahat dan diukir, ringan serta memiliki kemampuan untuk mengapung di atas air.

Kelemahan utama kayu balsa adalah kurangnya kekuatan dan daya tahan terhadap kelembaban. Kayu balsa menjadi pilihan yang baik untuk membuat model perahu dan pesawat terbang.

Peluang dan tantangan dalam budidaya kayu balsa

Eksistensi kayu balsa di Sintang mulai digaungkan oleh pemerintah daerah, dalam setiap pidatonya Kartiyus, Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang, menyampaikan bahwa kayu balsa harus menjadi ikon Sintang, mengingat akan dibangunnya pabrik kayu balsa pada tahun 2025 di Kabupaten Sintang. Hal ini merupakan peluang usaha yang baik dan strategis dalam pengembangan kayu balsa.

“Mengingat permintaan bibit kayu balsa meningkat, hingga negara Malaysia juga ingin membeli bibit dari kita untuk mereka kembangkan di sana, saya tegaskan kepada PT. Balsa Indonesia, untuk memprioritaskan di Sintang dulu” Katanya.

Setidaknya sudah ada beberapa desa-desa yang tertarik untuk membudidayakan tanaman balsa, namun perlu adanya perjanjian kerja sama yang mengikat para pihak agar saling bisa berkomitmen satu sama lain.

“Mengingat hal itu kami juga selektif dalam memilih desa yang akan dikerjasamakan, jangan sampai latah melihat petani-petani lain menanam balsa, di beberapa kasus ada sejumlah bibit yang kami distribusikan namun tidak dikelola dengan baik oleh petani” ujar Nyemas Sri Maya Wati selaku Dirut Kalimantan Barat PT. Balsa Indonesia.

 

Bibit tanaman balsa yang akan diafkir, mengingat kualitas yang kurang baik. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Pihak PT. Balsa Indonesia menggandeng pemerintah dalam pengembangan balsa di Kabupaten Sintang, seperti berkolaborasi dengan Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Sintang Utara, Sintang Timur, dan Melawi. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir pembukaan lahan dan penanaman di wilayah Kawasan seperti Hutan Lindung. Perlu adanya antisipasi untuk hal ini, mengingat wilayah-wilayah desa yang beririsan dengan Kawasan.

Saat ini, di Desa Mantir sudah ada lahan yang ditanami balsa seluas 3 Ha yang dikelola oleh 10 orang petani. Harga kayu balsa sendiri bervariatif tergantung dari kelasnya, kayu balsa dengan diameter 13 – 14 cm dihargai Rp. 500.000,-/kubik yang masuk dalam kelas A1, sedangkan untuk kelas A3 dengan diameter 30 cm ke atas dihargai Rp. 1.300.000,-/kubik.

Kandang sapi yang berada tak jauh dari kebun balsa, biasanya petani mengaplikasikan pupuk organik pada tanaman balsa. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Pohon balsa sudah bisa dipanen pada usia 3 tahun dengan diameter 35 – 40 cm, pihak perusahaan menekankan agar petani memanen tepat waktu dalam rentang waktu yang sudah ditentukan. Pohon balsa yang sudah memasuki usia 4 tahun bisa dikategorikan balsa merah dan sudah mulai berkurang kualitasnya.

Budidaya tanaman balsa bisa dibilang cukup mudah, hal yang paling utama dalam budidayanya ialah pada saat pembibitan yang perlu perhatian khusus. Jarak tanam yang direkomendasikan antara 2×3, 3×3, hingga 4×4. Untuk jarak tanam 4×4 bisa digunakan pola tumpang sari.

“Kami merekomendasikan petani agar menggunakan pupuk organik dalam pemupukan tanaman balsa, mengingat ini bagian terpenting dalam pengurangan dampak lingkungan yang ada” kata Nyemas Sri Maya Wati.

Kayu balsa kini menjadi perhatian oleh petani, melalui pola kemitraan yang mengatur kerja sama, semua pihak saling terlindungi dalam perjanjian kerja sama. Di Kabupaten Sintang sendiri sudah dilakukan panen perdana di Desa Merti Guna, seluas 1 hektar, yang hasil dari panen tersebut dibeli oleh perusahaan.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments