Selasa, Mei 14, 2024
BerandaKOMODITAS BERKELANJUTANMengenal Kampung Kopi di Hulu Tempunak, Sintang.

Mengenal Kampung Kopi di Hulu Tempunak, Sintang.

  • Kopi Ansok di Desa Benua Kencana, menyimpan sejarah yang cukup panjang di Kabupaten Sintang. Awal mula dibawa oleh Misionaris Belanda sekitar tahun sebelum 1950an.
  • Dalam budidayanya sempat mengalami kevakuman hingga akhirnya dikembangkan lagi oleh masyarakat suku Dayak Seberuang di hulu Tempunak, Sintang.
  • Melalui Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Desa Benua Kencana mendapat Surat Keputusan (SK) Bupati Sintang terkait pengakuan dan perlindungan Masyarakat Hukum Adat (MHA). Luas wilayah adat masyarakat Dayak Seberuang di Kampung Ansok, Desa Benua Kencana adalah 1.173,82 hektare.
  • Antonius Antong, Ketua BPH AMAN Sintang, mengatakan saat ini terdapat 14 pembibitan Kopi Robusta yang dikelola oleh warga secara mandiri. bibit-bibit tersebut selain untuk dijual juga ditanam pada lahan-lahan mereka secara tumpang sari.

 

Sebagai penikmat kopi kali ini saya berkesempatan mengunjungi suatu wilayah di hulu Tempunak, Sintang, untuk mengunjungi teman sesama pegiat isu lingkungan dan mengunjungi pembibitan kopi yang ia dan masyarakat di sana kelola. Sudah lama sekali saya ingin mengunjungi tempat ini namun waktu dan kesempatan yang belum memungkinkan.

Jum’at, 09 Juni 2023 saya bertolak dari Sintang menuju Kampung Ansok melewati rute wilayah Pandan yang kala itu sedang dalam pengerasan jalan oleh alat berat perusahaan. Di sepanjang jalan kami kesusahan melewati jalan yang becek nan basah disebabkan di hari sebelumnya turun hujan deras hingga subuh hari, alhasil perjalanan kami diwarnai dengan tantangan jalan yang cukup menguras tenaga dan konsentrasi.

Perjalanan menghabiskan waktu tempuh antara 2,5 – 3 jam dengan medan jalan yang cukup rusak, maklum jalan yang kami lalui merupakan jalan lakterit perusahaan sawit. Apabila musim panas maka berdebulah dan musim hujan maka jalan cenderung licin dan becek. Seperti itulah dinamika jalan yang belum tersentuh oleh pembangunan.

Di sepanjang jalan kiri dan kanan hanya tampak hamparan perkebunan kelapa sawit, sesekali kami melewati pemukiman warga transmigrasi dan lokal. Saya kali ini ditemani teman kantor, Septy Ramadhan namanya, misi kami kali ini selain ingin melihat pembibitan kopi kami juga memesan benih kopi untuk kami distribusikan ke desa dampingan lembaga tempat kami bekerja.

Kami berangkat dari Sintang pukul 10.00 wib dan sampai di Kampung Ansok sekitar pukul 14.00 wib, diimbangi dengan istirahat dan lain-lain hal di jalan. Sesampainya kami di sana, kami sudah ditunggu oleh warga. Kami meminta maaf atas keterlambatan kami kali ini, tanpa berlama-lama kami diajak keliling ke pembibitan kopi setidaknya ada 14 titik yang kami kunjungi satu persatu. Setelah itu kami mengunjungi Tembawang tua milik masyarakat. Di dalamnya terdapat tanaman-tanaman buah-buahan lokal seperti Durian, Tengkawang, Petai, Jengkol, Kopi dll.

Salah satu pohon kopi indukan yang dibawa oleh Misionaris Belanda, yang ditanami oleh warga lokal. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Sejarah tanaman Kopi ditanam di daerah ini berasal dari Misionaris Belanda yang datang pada tahun sebelum 1950an. Kehadiran Misionaris tersebut selain dengan misinya, ia juga membawa beberapa bibit Kopi jenis Robusta untuk ditanami di wilayah yang ia jelajah seperti di Kampung Ansok ini, yang masuk dalam wilayah Dusun Balai Temenggung, Desa Benua Kencana.

Antonius Antong bersama rekan memanen biji kopi untuk dibudidayakan di pembibitan desa. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Secara topografi Desa Benua Kencana berada pada ketinggian 320-370 mdpl, hal ini sesuai dengan karakteristik kesesuaian lahan untuk tanaman Kopi Robusta yang memerlukan ketinggian 40-900 mdpl. Desa Benua Kencana berada dalam lingkar Bukit Saran, yang merupakan wilayah dengan hamparan bersuhu yang cukup lembab. Karakteristik Kampung Ansok merupakan bekas kampung tua yang di sepanjang wilayahnya terhampar Tembawang-Tembawang tua peninggalan nenek moyang yang masih dijaga sampai saat ini.

Jika berkunjung ke sana pengunjung dapat melihat masih berdirinya dengan kokoh Pohon Tengkawang (Shorea. Sp) yang sengaja dipertahankan keberadaanya oleh masyarakat. Melalui kelompok tani di Kampung Ansok, Antong, mengajak warga untuk mengelola pembibitan kopi, hingga kini terdapat setidaknya 14 pembibitan yang akan terus dikembangkan ke depannya.

Rumah pembibitan salah seorang warga di Kampung Ansok, bibit yang dikembangkan dari Serdadu buah kopi yang gugur dari pokok. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Antonius Antong, menuturkan sebelumnya pernah dilakukan pengecekan laboratorium terkait biji kopi tersebut, dan didapati hasil yang sangat memuaskan di kelasnya mengalahkan Kopi-Kopi pada umumnya di peringkatnya. Dari hasil uji laboratorium, biji kopi yang dihasilkan dari Kampung Ansok memiliki skor cafein dengan nilai 83, yang di mana ini merupakan kategori premium di kelasnya. Hal ini bukan tanpa sebab, pada Tembawang-Tembawang tua yang di mana banyak sekali jenis-jenis buah-buahan ditanam di lahan tersebut seperti Durian, Langsat, Pinang, Karet, Tengkawang, hingga tanaman buah-buahan lainnya saling berkaitan.

“Mungkin karena kopi yang ditanam di sini sudah berumur puluhan hingga ratusan tahun, sehingga akar-akar yang berada di dalam tanah sudah membesar dan saling berkaitan serta bersentuhan sehingaa terjadi reaksi-reaksi satu sama lain yang menyebabkan kombinasi cita rasa kopi Ansok memiliki nilai cafein 83 yang masuk dalam kategori premium” ujar Antonius Antong.

Biji kopi yang dijemur oleh warga untuk kebutuhan konsumsi, proses ini merupakan pemisahan daging buah melalui terik sinar matahari. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Kampung Ansok memiliki daya tarik tersendiri, selain sudah resmi dideklarasikannya sebagai Kampung Kopi pada tanggal 27 Juni 2023, oleh Jarot Winarno, Bupati Sintang yang juga bertepatan dengan acara Adat Gawai Dayak yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Desa Benua Kencana.

Tembawang tua peninggalan nenek moyang Suku Dayak Seberuang di Desa Benua Kencana, Sintang. Foto: Nurmanto/Rimba Aksara

Melalui Tembawang-Tembawang tua yang masih dipertahankan saat ini, menyimpan sejarah yang panjang tentang masyarakat adat yang menjaga kelestarian hutan berbasis kearifan lokal dengan adat istiadat. Melalui deklarasi Kampung Kopi, masyarakat adat ingin menggaungkan komoditas kopi di hulu Tempunak sebagai komoditas unggulan, karena tradisi minum kopi sudah menjadi warisan budaya dalam setiap perjalanan lintas generasi.

RELATED ARTICLES

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments